Lewati ke konten
MUGHITS

UMKM & Business Strategy

STP dan Value Proposition Canvas: Urutan yang Sering Terbalik

Banyak tim mengisi Value Proposition Canvas lebih dulu sebelum menentukan siapa yang mereka layani. Akibatnya canvas terisi rapi tetapi tidak mengubah keputusan apa pun.
Abdul Mughits2 menit baca

Dalam pendampingan UMKM, saya sering menemukan Value Proposition Canvas yang terisi lengkap: daftar pains, gains, pain relievers, gain creators. Semuanya rapi. Tetapi ketika ditanya "untuk siapa canvas ini disusun", jawabannya sering kali mengambang.

Di situlah masalahnya. Value Proposition Canvas hanya bermakna jika ditempatkan pada satu segmen yang spesifik.

Mengapa urutannya penting

Segmentasi, targeting, dan positioning (STP) adalah proses memilih. Value Proposition Canvas adalah proses merancang untuk pilihan tersebut.

Jika Anda mengisi canvas sebelum memilih segmen, yang terjadi adalah canvas tersebut memuat kebutuhan semua orang sekaligus. Hasilnya terasa benar untuk siapa pun, dan karena itu tidak meyakinkan siapa pun.

Urutan yang disarankan

Segmentasi. Pecah pasar berdasarkan kebutuhan, bukan hanya demografi. Dua orang berusia sama bisa memiliki kebutuhan yang sangat berbeda.

Targeting. Pilih satu segmen untuk difokuskan. Kriteria pemilihannya sederhana: cukup besar, bisa dijangkau dengan sumber daya Anda, dan memiliki kebutuhan yang benar-benar mendesak.

Value Proposition Canvas. Baru pada tahap ini susun canvas untuk segmen terpilih. Setiap kolom harus bisa dijelaskan dengan kalimat "karena pelanggan segmen ini...".

Positioning. Rumuskan posisi Anda di benak segmen tersebut dibandingkan pilihan lain yang tersedia.

Tanda canvas Anda sudah tepat

Ada beberapa tanda sederhana bahwa canvas Anda sudah bekerja.

Setiap pain yang tercantum dapat Anda sebutkan contohnya dari pelanggan nyata. Pain reliever yang Anda tawarkan sudah benar-benar tersedia, bukan rencana. Anda dapat menyebutkan satu hal yang sengaja tidak Anda kerjakan karena tidak relevan bagi segmen terpilih.

Poin terakhir sering diabaikan. Strategi yang baik selalu mengandung keputusan untuk tidak mengerjakan sesuatu.

Kesalahan yang paling sering terjadi

Mengisi canvas sekali lalu tidak pernah diperbarui. Kebutuhan pelanggan bergeser. Canvas perlu ditinjau berkala, misalnya setiap kuartal.

Mengisi canvas sendirian. Canvas yang disusun hanya oleh pemilik bisnis sering memuat asumsi. Libatkan orang yang berhadapan langsung dengan pelanggan.

Menjadikan canvas sebagai dokumen pajangan. Jika canvas tidak mengubah keputusan operasional apa pun, berarti canvas tersebut belum berfungsi sebagai alat, hanya sebagai formalitas.

Langkah praktis

Jika Anda ingin memulai, lakukan dalam urutan ini: pilih satu segmen, wawancarai lima pelanggan dari segmen tersebut, catat kebutuhan mereka dengan kata-kata mereka sendiri, baru isi canvas. Perubahan pada canvas biasanya akan lebih kecil dari yang Anda bayangkan — dan justru itulah tandanya canvas tersebut mulai akurat.

Penulis

Abdul Mughits

Mughits adalah konsultan UMKM bersertifikasi BNSP, praktisi digital marketing, trainer, dan penggerak ekosistem digital yang berfokus pada pemanfaatan teknologi digital serta kecerdasan buatan untuk membantu bisnis meningkatkan daya saing, memperkuat pemasaran, menghasilkan konten yang relevan, dan mengembangkan peluang pertumbuhan.

Selengkapnya tentang saya

Baca Juga

Artikel lain yang berkaitan

Siap Mengembangkan Bisnis dengan Strategi Digital dan AI?

Ceritakan tantangan atau rencana Anda. Mari diskusikan pendekatan yang paling relevan dengan kebutuhan bisnis, lembaga, atau proyek Anda.